Ungu dan Perpisahan


Lampu kuning yang berjejer mengelilingimu, seumpama bunga pada  sebuah taman. Begitu kontras dengan dirimu. Entah itu hati mu atau gaun panjang yang kini kamu kenakan. 


Gaun ungu yang indah. Serta rambut panjang tergerai hingga ke punggung. Gugup. Satu kata muncul dalam benak, ketika melihat tangan mu saling berpaut. Kakimu yang terbungkus sepatu yang senada dengan warna gaun yang kini kamu kenakan,  kaki kirimu bergerak ke kiri dan ke kanan,   tanpa kamu sadari pasir pantai di bawah kakimu membentuk kipas. Tanda bahwa kamu gugup. Apa yang kau sembunyikan? 


"Sebaiknya kau duduk" katamu mempersilahkan, tapi kamu pun tidak segera duduk.  


"Kenapa?" lelaki di sisi lain meja  kini bertanya, namun kamu masih berpikir akan suatu hal yang harus kamu selesai kan. Seakan tidak yakin kamu bisa mengutarakan semua nya.


"Ada rasa yang akan tertinggal." kamu mengatakannya dengan suara lirih. Sedikit teredam oleh suara ombak, yang seolah-olah memberi semangat bagimu. 


"Hah? Dan kenapa kamu tidak duduk, lalu apa yang kau katakan tadi?" 


" Ada rasa yang akan tertinggal. " tegas mu, seakan kata yang harus kau rapalkan seolah sebuah mantra, bukannya duduk, tapi kamu memilih untuk tetap berdiri tepat di hadapannya yang memandangmu dengan tatapan penuh tanya. 


"Kita harus selesaikan ini secepatnya. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu  yang tidak seharusnya jadi jalan kita." kamu pun memilih duduk, dan mengeratkan genggaman mu di tangan nya.  Rambut hitam panjang milik mu, jatuh.  Setidaknya menutupi  mata mu yang mulai berair. 


"Ku mohon." tangisan terdengar, dan bahumu mulai begetar seiring tangisan itu berlanjut.  


Tarikan napas lelaki di depan mu, terdengar berat. Seakan ia baru menyadari apa yang kamu maksud.  Mungkin itu benar. 


"Apakah sebaiknya mengakhiri semua ini? Begitu? " kamu pun mengiyakannya, dengan anggukan kecil. 


"Mungkin sebaiknya begitu, mengakhiri semua ini. Gaun ungu yang indah. Sangat cocok dan pas di dirimu, tapi lebih indah jika kamu juga tersenyum. Warna ungu bisa menyajikan keceriaan, di sisi lain warna ungu juga bisa terlihat murung. Tergantung pada si pemakai, jadi tersenyumlah."  katanya panjang. Untuk pertama kalinya lelaki itu berbicara panjang dalam waktu sepekan ini padamu. Entah mengapa rasa bernama  rindu itu muncul dalam sekejap. Mengganti rasa gugup, yang membuat pertemuan kali ini berbeda. 


"Tapi jangan memintaku untuk meninggalkannu pada saat kamu butuh, pada saat kamu butuh seseorang di sampingmu, anggap aku sebagai apapun yang kamu inginkan, terserah apapun itu." lanjutnya. 


Tatapan teduh di wajahnya membuat kamu percaya bahwa lelaki di hadapanmu itu benar- benar orang baik. Kamu pun tak akan menyesal jika kamu pernah mengenal dan jatuh hati padanya. 


Tidak salah jika kamu memilih baju ungu itu, kamu ingin mengenang senyum nya. Karena kamu tahu ungu adalah warna kesukaannya.  


Dan senyuman itu menjadi rekaman terakhir bagimu. Kamu ingin bahagia bersamanya,  meskipun tersirat akan makna perpisahan. 




13.09.2020_13.09

Komentar