Rupan 2
Derit kayu bangku tua yang kini kau duduki. Kau rebahkan diri dalam ketenangan yang menghanyutkan dari bangku tua. Kau coba menenangkan dirimu sendiri. Harimu kini kau lewati dengan kebahagiaan, tanpa perlu mengingat rasa sakit itu, meskipun kadang muncul. Dan sekalinya muncul akan mengacaukan satu hari mu.
Gelombang ombak yang diiringi desah angin, keduanya menderu, saling berkejaran. Tiupan angin bagai seruling alam pun perlahan masuk ke telinga. Angin yang berhembus mencoba menggapai rambut mu. Kaki mu melangkah ke arah yang sedari tadi kau pikirkan. Mungkin kau butuh segelas es, atau secangkir kopi panas.
Seperti biasa mereka penghuni asli pulau ini begitu mengenalmu, menyapamu, dan segera menyiapkan apa yang selalu kau pesan dan ya benar, kopi dengan es batu. Pemilik warung begitu akrabnya hingga mampu memahami keinginanmu, atau ia memang bisa membaca pikiran. Tak perlu kau pusingkan hal itu. Dengan segelas kopi dingin pun bisa membuatmu bahagia. Setidaknya kau tak perlu memikirkan hal lain pastinya.Banyak hal yang lebih baik dipikirkan. Otakmu akan lebih berguna jika kau bisa menentukan seperti apa kau menghabiskan waktu yang lebih bermanfaat buatmu.
"Satu bab buku lumayan." gumammu sebelum kau terhanyut dalam kisah orang lain.
Komentar
Posting Komentar