Coba bahagia untuk diri sendiri
Ternyata dia telah menyerah pada hidup. Tanpa mau berjuang. Lagi. Satu jam saja ia menanti. Ia pasti memberi kesempatan, barang kali ia akan pergi untuk mencari kebahagiaan. Sebentar saja ia tak inginkan waktu yang lama. Tapi suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, dasar dan puncak dari rasa kecewa.
Omong kosong baginya, jika dia bisa bahagia untuk orang lain. Dia juga patut bahagia tanpa harus memikirkan kebahagiaan orang lain. Yah dia butuh bahagianya sendiri. Apa salahnya ia ingin bahagia untuk dirinya sendiri? Coba sebutkan apa salahnya?
Salah, karena dia adalah manusia yang butuh manusia lain. Ada yang lain? Jika bukan jawaban itu mungkin bisa dibenarkan.
Hatinya milik siapa? belum tentu orang lain memikirkan perasaannya. Menjaga ucapan mereka demi dia. Menjaga kelakuan mereka demi dia. Gak ada.
Tapi kenapa dia harus memikirkan perasaan orang lain. Memikirkan kebahagiaan orang lain. Harusnya tidak. Andai saja dia bisa mengubah takdir kematian. Pasti ia akan memilih satu detik sebelum ia merasakan sakit hati.
Padahal dia sudah mencoba untuk memikirkan orang lain. Tapi ia tak bahagia pun. Mungkin ia berucap dirinya bahagia, namun apa kabar air mata nya yang sulit ia kendalikan.
Hati nya berusaha supaya dirinya bisa tersenyum dan tertawa, tapi sekuat apapun ia berusaha, marah dan kecewa seakan tak bisa dimaafkan.
Mungkin benar ketika ia berbohong jika ia bahagia, ia akan bahagia tapi hanya sebatas senyuman, sungguh ia sangat terluka pada hatinya.
Orang tahu bagaimana orang lain harus menjalankan hidup, tapi ia tak tahu bagaimana dia menjalankan hidup.
Orang tahu bagaimana orang lain harus bahagia, tapi orang jarang yang tahu bagaimana dia harus bahagia.
Komentar
Posting Komentar