Yang istimewa adalah kamu
Mentari masih berada ditanduk setan. Namun di sepagi ini kamu sudah di atas bebatuan. Memunguti batu-batu yang katamu unik dan bagus. Kamu begitu teliti dan berkonsentrasi dalam mengamati batu-batu itu.
Kamu ambil satu batu warna hitam legam, bulat sempurna. Selanjutnya, kamu membersihkan batu itu dengan kain serbet yang selalu kamu bawa kemanapun, "mungkin ada batu cantik yang aku temukan," katamu saat orang lain bertanya padamu kenapa selalu ada serbet di kotak itu. Kotak yang kamu sebut harta karun, selalu memberi kebahagiaan.
Entah sudah berapa lama ini berlalu, dan tak dapat dihitung lagi berapa banyak batu yang kamu kumpulkan bertahun-tahun. Selama ada batu yang tersimpan kamu akan merasa baik-baik saja. Di balik kesuksesan mu orang lain tak melihat dirimu seutuhnya, yang teristimewa bagimu bukanlah kesuksesanmu, melainkan batu-batu yang tersusun rapi di rak adalah hal yang paling istimewa.
Terlalu asik kamu mengamati tiga batu yang kamu temukan, hingga tak menyadari ada seseorang yang mengawasimu dari kejauhan. Ia berharap kamu menoleh ke arahnya.
Tapi harapannya tak kunjung terkabul. Langkah kakimu malah menjauh darinya. Membelakanginya, dan berlalu tanpa memperdulikannya, "ingin rasanya aku menjadi batu-batu itu," gumamnya di selah tawanya, tawa penuh tekanan dan penyesalan.
"Ha? Orang pasti menertawakan aku, jika aku iri pada batu, karena menurutnya batu itu sangat istimewa."
Kamu berjalan dengan semangat seakan tanpa beban di hidupmu, hanya dengan batu-batu itu kamu bisa tertawa lepas, hingga tanpa kamu sadari pada genggamanmu salah satu batu itu terjatuh. Tepat di pasir, sedang kini hanya ada dua batu di tanganmu.
Apa yang akan terjadi ketika batu itu hilang? Apalagi selain membiarkannya. Masih banyak batu yang bisa ditemukan meskipun bukan di tempat yang sama.
Komentar
Posting Komentar