ada yang tak perlu ditunggu
Udara hari ini terasa lebih segar, lapang dan lebih tenang dari sebelum-belumnya. Pancaran panas matahari menyesuaikan diri untuk menyusup kekulit. Tidak panas, tapi menghangatkan hati dan mendinginkan pikiran.
Suasana rindang pepohonan pun menagih kerinduanmu pada yang tersayang." Lekaslah kembali" itu pintanya dalam hati, seakan memberi kabar padamu, yang saat ini tak ada di dekatnya. Itu doanya tiap malam di kala ia harus menengadahkan tangan pada sang pencipta. Ia berharap kembali.
Kini saatnya waktu itu tiba, waktu yang selama ini janjikan padanya tapi tak pernah tersampaikan. Sudah waktu nya kembali padanya. Menjadi yang tercinta untuknya. Jika sebulan yang lalu ia berharap kamu kembali dengan mahar, mungkin saat ini,ketika melihatmu ia berharap kamu kembali dengan kata sabar.
Awan mulai menggelap di langit, pertanda akan hujan. Tapi mendung belum tentu hujan. "Yang dinanti belum tentu menanti," kamu pun bingung dengan apa yang baru saja kamu ucapkan. Perjalanan ini masih panjang, kamu pun tak ingin rehat sejenak, bagimu hanya buang-buang waktu, dan memperlambat citamu untuk segera terpenuhi. Ah rindu itu semakin kuat, mempercepat detakkan jantung, semakin sakit jika ditunda. Ketakutan yang tidak masuk akal itu semakin menghantui, kamu bahkan tak ingin tidur semenit saja, takut jika pemberhentian selanjutnya terlewat. Hingga membuatmu semakin menjauh dari ia yang akan kamu temui setelahnya.
Tepat di pemberhentian bis terakhir, melihat seseorang yang selama ini rindukan. Matanya teduh menatap matamu. Rasanya ingin berlari dan memeluknya, namun hatimu berkata jika tidak baik hal itu dilakukan. Kau pun mengurungkan niat mu.
"Hai," sapanya terlebih dahulu, begitu kaku tidak seleluasa biasanya. "Hai, apa kabar?" begitu menahan rasa sakit di hatimu. Hanya senyum sebagai jawaban. Gelisa. Satu kata yang menggambarkan dirimu saat ini. Di perjalanan hanya keheningan melingkupi kalian.
Setibanya di persimpangan rumah, ada kejutan untukmu, tenda terpasang didepan rumah, pernikahan siapa? sedang tahu ia tak memiliki saudara sama sekali. Ah ya pertanyaan itu terjawab ketika melihat tulisan selamat untuk dia dan orang yang akan menjadi pasangannya.
"Terima kasih,selamat." katamu, sekali lagi hanya senyuman yang diberikan. Tanpa berusaha memberi penjelasan, ia pergi berlalu ke pulang ke rumah yang tadi mengejutkanmu. Bukan tidak ingin kepastian, hanya saja apa salahnya tidak membuat semua ini semakin rumit, tidak ada yang perlu dijawab atau dijelaskan. Semua sudah terjawab, bahkan sebelum pertanyaan itu diajukan. Kau pun memasuki rumah yang lama kau tinggal kan, berjalan menuju kekamar gelapmu. Mengingatkan satu persatu peristiwa. Kau lihat cermin yang menyambutmu saat datang kau nyalakan lilin yang selalu menemanimu. Bayangan di depan mu berwarna kuning cerah.
"Aku yang menunggu, orang lain yang dapat, hidup setidak adil itu. Seandainya waktu bisa diputar, tak perlu aku menunggunya jika sedari awal ku tahu orang lain yang akan memiliki."
Komentar
Posting Komentar