Lumpang
Bulan terlihat sangat kecil malam ini. Berbentuk setengah lingkaran. Tidak bersinar seperti biasanya. Diammu digeluti rasa asing, yang membuat dirimu harus berontak. Ada rasa sakit di hatimu, yang tak kau ketahui mengapa, dan bagaimana itu bisa terjadi?
Diam. Terpaku. Berdiri dan mematung, hingga gelap menguasai dirimu. Kau tahu jika waktu yang kau miliki tidak lama. Tubuhmu seakan mengajakmu lebih dekat dengan-Nya.
Kau lupa jika tak pernah ada bahagia di hidupmu, hingga kau terlena pada bahagia milik dunia. Setitik air mata yang membasahi sudut matamu, rasa sakit itu kini menggantung di tenggorokanmu, suaramu tercekat, menahan rasa sakit yang teramat memberi sinyal begitu sakitnya perpisahan itu. Perpisahan antara raga dan jiwa. Pada keheningan dan mulut mu yang membisu, semua terasa sia-sia pengorbananmu untuk mereka. Kini mereka bernapas dengan lega, sedang kau masih saja terdiam, sesak dan sakit.
Kau ingat jika sedari dulu kau selalu mengisikan ramuan aneh kedalam lumpang kecil, lalu kau tumbuk, dan kau keringkan, atau kau simpan berhari-hari di tempat yang telah kau khususkan. Hingga tiba saatnya kau akan memberikan nya kepada orang yang memesan. Tapi kau harus meyakinkan mereka untuk menunggu hingga waktu yang cukup lama.
Mereka memintamu untuk membuat ramuan itu. Lalu akan mereka berikan ke musuh, teman, bahkan saudara mereka. Mereka menganggap jika apa yang kau ramu hanya untuk menyiapkan target menjadi bangkai.
Kenangan itu terlampau cepat, bagaikan memori yang dipercepat, diulang bagai kaset yang rusak. Kau tak akan menyesal seperti saat ini, jika kau tak pernah memilih pekerjaan itu. Kau adalah pembunuh yang tak terlihat, tersamar oleh pembunuh yang lain. Kau tahu kini rasanya terbunuh secara perlahan.
Komentar
Posting Komentar