RUPAN 1
Kau buka matamu, suara deru ombak saling berkejaran menyapa pagimu. Jika dulu, alarm abadimu aktif. Kini semua berubah, kau hanya mendengar deru ombak sebagai penggantinya.
Kau tatap jendela yang sedikit terbuka. Bergerak turun dari ranjang, berjalan menuju jendela, selanjutnya kau buka lebar jendela itu angin berhembus masuk. Kau hirup dalam-dalam udara dan kau hembuskan dengan perlahan. Semua itu kau ulangi hingga tujuh kali dengan senang hati. "Terima kasih Tuhan." Untuk yang terakhir kau ucapkan rasa syukur. Kau pun tak paham kepercayaan apa yang kau anut. Tapi kau tahu Tuhan begitu baiknya hingga memberimu rasa takut. Rasa takut akan kehilangan dia untuk selamanya, yang berarti penantianmu itu sia-sia.
Seperti hari-hari biasa kau akan berkutat dengan buku-buku lusuh dan buku gambar itu. Kau bubuhkan beberapa coret kata atau garis-garis rumit. Tak lupa penggaris yang biasa kau gunakan tergeletak rapih di sampingya. Sesekali penggaris itu membantumu untuk menentukan letak. Jika ia bisa berkata atau berperasaan ia akan merasa tak berguna.
Tangan kanan dan kiri yang bekerja saling membantu. Mereka mempercepat pekerjaanmu. Satu jam berlalu tanpa kau rasa. Tapi masih ada beberapa yang ada dalam buku yang harus kau pecahkan, atau biasanya kau akan mereka ulang semua nya.
Suara ombak masih menemani kesendirian mu, kau lakukan itu semua karena kau hanya ingin membunuh waktu. Di ruangan mungil ini kau bertaruh pada hidup sendiri, penuh kekosongan. Terdapat beberapa benda elektronik seperti laptop dan radio kuno. Tak terkecuali televisi yang pecah. Terakhir kali televisi itu menampilkan berita yang mengabarkan kecelakaan kapal, dan dua di antara nya adalah kekasihmu dan sahabatmu.
Kau hentikan semua aktifitasmu sebelumnya, meneguk segelas air dengan rakus dengan tangan gemetar. Mata indahmu melirik sebuah gantungan, terdapat mereka berdua saling bertautan tangan dan dua titik yang pasti akan merobohkan egomu saat itu juga, dua cincin tunangan. Tanganmu menggenggam erat gelasmu.
Kau tak tahu apa yang dipikirkan oleh keduanya, tapi kau tahu apa yang Tuhan rencanakan untukmu adalah yang terbaik.
Komentar
Posting Komentar