Sulit Jika Cari Solusi

 "Cuaca begitu dingin ya? Meskipun tidak turun hujan." suara mengejutkanku dari sebelah kanan.


"Kau bicara denganku?" tanyaku ketika ku dapati orang yang aku pun tak mengenalnya, dengan dua minuman kaleng di tangannya. 


"Haha bukan tapi sebelahmu," ujarnya sesekali menyesap minuman miliknya. Haduh apa kini aku tengah berbincang dengan orang gila?


"Maaf? Maksudnya?" tanya ku memastikan, semoga saja tidak. 


"Tentu saja dengan kamu, di sini hanya ada aku dan kamu," ujarnya membuat ku sedikit lega. 


"Oh."  kupalingkan wajah ku ke depan, masalah yang merundungku sebulan ini, membuatku tak ingin berbicara mengenai apapun dan dengan siapa pun itu. Apalagi dengan orang yang tak ku kenal. 


"Kadang kita butuh masalah dalam menjalani kehidupan di dunia." ku harap wajahku tak menampakkan kesan terkejut sama sekali. Tapi jika boleh jujur, aku terkejut. Sangat. 


"ehmm, mungkin tapi, apa masalahnya?"  Pertanyaan macam apa itu, tak seharusnya aku melanjutkannya. Aku ingin sendiri, tak mungkin aku mengusirnya, ini kan tempat umum. 


" Manusia yang merasa jika masalah itu tidak baik, dan berharap untuk lekas pergi setelah solusi itu datang,"  ujarnya dengan menyesap minuman sesekali sebelum minum ia mengocoknya. 


"Memangkan?"  aku  ingin menanggapi, hanya takut dianggap tidak sopan. 


"Tapi manusia juga lupa, jika tiap ada solusi masalah lain akan datang, begitupun seterusnya,"  di barengi lemparan kaleng ke tempat sampah dan ya pas. Bisa-bisanya kaleng itu menyita perhatianku.  Mungkin ia mantan atlet basket, tentu ku ucapkan itu dalam hati. 


"Jadi apakah solusi itu tidak penting?" tanyaku, ku tatap matanya biru, dan cerah. Serta alis tebal membingkai kedua matanya. 


"kau bertanya?" ternyata dia begitu menyebalkan, ingin sekali aku usir dia, dan berteriak di hadapannya. "Pergi, aku ingin sendiri!" tapi kusimpan dan ku ungkapkan dengan gerutuan."Terserah, apa yang kamu tangkap" 


"Haha tentu saja solusi pada tiap masalah itu penting, setidaknya manusia tidak melulu jalan di tempat, atau paling tidak mereka bergerak. Lagi pula manusia bisa berpikir jauh tentang masalah kedepannya, atau bagaimana solusi kedepannya." ucapnya kali ini aku dengarkan dengan sungguh-sungguh. 


"Lalu ada apa dengan masalah?" tanya ku selanjutnya, aku mulai tertarik dengan masalah ini. 


"Hah? Untuk yang satu itu aku tak tahu,"  ternyata benar dia jauh dari kata menyebalkan. Tapi sangat, sangat menyebalkan. 


Satu bunga  jatuh di hadapan ku. 

"Simpan bunga itu!" perintahnya. Begitulah, kurasa itu perintah bukan tawaran. 


"Mungkin kita bisa bertemu di lain hari,  nanti kita berbincang tentang alam. Nih minum, kopi biasa, bisa menghangatkan tubuh, meskipun cuma di tenggorokan." Ujarnya menyodorkan kaleng minuman yang masih utuh, dan diapun menunduk mengikat sepatunya. Lebih tepatnya mengencangkan talinya. 


"Terima kasih," ku harap ia mendengar nya. 


"Sama-sama, sampai jumpa lagi." sebelum ku jawab salam perpisahannya ia telah melompat dari bangku taman, dan lari. Sesekali ia melompati batu.  Ku ikuti geraknya  hingga ia menghilang dibalik belokan. 


"Aku tunggu janjimu. Sampai jumpa."

Komentar

Postingan Populer