Lagu Kita
Mari kita nyanyikan lagu kenangan.
Biarpun kita berbeda ruang, masih ada kaca untuk kita berjumpa, setidaknya kita bisa bercanda, meskipun tidak seindah awal kita berjumpa. Kita sama-sama mengenang, mencari ingatan masing-masing, tentang keributan kita dulu, tentang candaan kita, tentang kesedihan bersama, tentang rindu kita, tentang amarah dan kebencian kita, sudah berapa banyak air yang terjatuh dari mata kita kala itu?
Mata yang kutatap dibalik kaca dulu indah, begitu indahnya hingga menggetarkan hatiku kala aku melihatnya. Sungguh. Aku iri, sangat ingin kumiliki mata indah itu untuk kupandangi tiap detiknya.
Kini mata itu begitu sedih, amarah pun terperangkap di dalamnya, kebencian terpendam terlalu di hati lembut itu, tapi kemana hati lembut itu pergi? Mengapa tak pernah kusadari kepergiannya? Aku sedih atas kehilangan ini.
Setitik air baru saja membasahi sebaris pipi itu, berawal dari mata yang sesekali melirikku. Sesekali menatap kearah lain, sesekali pula bersembunyi sendiri dibalik kelopak mataku. Hingga itu terjadi hanya hitam atau jingga yang terlihat.
Dibalik kaca samar terdengar lagu lama. Lagu yang menggetar hati. Aku kembali, sahabat lawasmu, benar katamu, aku telah mengingkari semua janjiku, semua waktu kita, mungkin tak seharusnya lagu itu kita sukai, jika harus berakhir pada kenyataan yang menyedihkan.
Percayalah aku tidak akan menjadi teman yang baik untuk orang lain. Hanya dirimu, untuk ke sekian kalinya aku berjanji,dan untuk kesekian kalinya pula aku takut mengingkari. Genggam erat hatiku, jangan kau melepaskan, bila aku mengingkari. Aku berjanji padamu, diriku.
Komentar
Posting Komentar