Terima atau Tolak?

 Panas hari ini masih bisa dirasakan, hangat dan tak menyiksa.

"Kenapa?" lamunan kacau oleh suara itu.
"Kenapa apanya?" ku harap dia tidak mengawali perdebatan tentang diriku.

"ketika ada orang yang bersedia membantumu kau malah menolak, kenapa?" ahh benarkan dia senang sekali ikut campur urusan orang.

"Kurasa tidak seperti itu, aku hanya tidak ingin orang kesusahan karena aku." jawaban yang sering aku katakan.

"Itu hanya perasaanmu saja, atau dirimu sendiri saat kamu membantu orang, kamu merasa terbebani jika dimintai bantuan," terbebani? tentu saja apalagi orangnya baik atau paling gak dia maksa, atau aku yang gak enakan untuk menolak.

"Tidak, jika dimintai bantuan, sekiranya aku tidak bisa membantu aku akan menolak, jika sedari awal aku tidak akan bisa membantu mereka buat apa? Aku takut malah merusak segalanya," ahh aku sendiri pusing memahami jawabanku sendiri.

"Bukankah kesalahan kecil masih bisa dimaafkan?" sayangnya tidak semua orang pemaaf.

"Jika kesalahan kecil bisa dimaafkan? Lantas bagaimana dengan kesalahan besar," ku rasa langit sudah tertutup awan.

"Bisa diperbaiki, diulang dari awal, jadi kita bisa tahu cara menghindarinya,"

"Itu jika suatu hal yang memang gampang untuk dimulai dari awal jika hal yang rusak tidak pernah bisa diperbaiki bagaimana? "

"Mengapa kau memusingkan hal itu, padahal kau tahu sendiri jika tak bisa memperbaiki," dia setuju dengan ku ternyata.

"Nah maka dari itu, dari pada aku merusak, lebih baik tidak usah kan?"

"Tapi Kenapa ketika ada orang yang mau membantumu kau malah menolaknya, apa karena kau takut segala yang kau lakukan dirusak olehnya? Begitu? "

"Bisa jadi itu termasuk jawaban tapi yang paling utama adalah aku tidak ingin orang lain kesusahan karena aku, dan nantinya mereka menasehati ku seakan mereka  lebih tahu daripada yang ingin aku perbuat. Dan ya aku tidak suka orang lain merusak rencanaku,"

"Jika saat kamu benar-benar butuh bantuan bagaimana? Apa kamu akan meminta bantuan atau menunggu mereka peka? "

"Tergantung perasaan, kebanyakan berharap orang peka,"

"Lalu ketika orang peka engkau menolak?  Jadi apa gunanya memahami dirimu? Pulanglah tak perlu dipikirkan itu nanti, lain kali bawa payung, cuaca sering berubah!"

Dia benar, jadi aku harus bagaimana?
Membiarkan orang memahami ku?
Membiarkan orang untuk tidak peduli.

Komentar

Postingan Populer