Kau Cerminkan Siapa Aku Sebenarnya.
Harusnya tengah malam kau tak melamun, biasanya juga langsung pulang.
Kau masih di sini? Ku pikir sudah lama pulang. Sejak kapan? Pasti lama?
Padahal, aku berharap cepat melupakan, salah satu nya membuatmu benci mungkin? Atau sebaliknya.
Apa aku cukup baik? Jika tidak, akan ku coba memperbaiki meskipun tidak seratus persen baik.
Aku akan memperbaiki diri sendiri, kalau bisa tanpa adanya kamu. "Apa kau bisa? " tanyamu tidak yakin. Kau tidak percaya padaku? Sudahlah, sudah lama juga aku berharap datang nya hari perpisahan ini.
Kenapa begitu, apa selama ini kau terkekang?
Ya selama ini aku terkekang, semakin ingin aku melepaskan semakin aku terjerat, dan semua ini semakin membuat ku sakit.
Aku ingin mencari kebebasan dan kata hatiku sendiri membenarkan jika semua yang aku lakukan adalah kebebasan.
Kapan kita hidup tanpa kata perintah?
Kau tahu, kebebasan manusia memiliki batasan. Kita punya norma punya etika, ada kata normal tidak normal. Biarpun yang lain tidak, manusia juga punya batasannya sendiri, hati dan nurani. Otak dan logika.
Mau bebas apalagi hah?
Bebas sebebas-bebasnya, bebas memiliki mu, seutuhnya dirimu milik ku apa bisa?
Kau merasa tidak memiliki ku?
Hati dan raga ini apa tak pernah kau dapati? Apa masih kurang kebersamaan kita? Kau nyaman di pelukku bukan? Kau serakah!
Apa katamu? aku serakah? Aku hanya minta satu yaitu kamu seutuhnya. Harusnya yang menyandang kata serakah adalah kamu! Kamu memiliki dua yang tiap hari nya kau jumpai, yang satu marah kau bisa lari ke yang lain.
Bisakah kita lepas ikatan ini? Aku manusia biasa, kau mengenalku, kau tahu jika aku tak ingin dikekang. Aku siapa bagimu? Pada malam hari kau datang dan pergi dengan satu stel pakaian kotor yang tertinggal. Tak lupa ada segepok uang dalam laci yang sengaja kau tinggalkan! Aku istrimu apa pelacurmu, atau pembantumu?
Kau tahu luka pada akhir malam itu? Seribu satu perlawanan kau henti kan dengan satu tamparan. Kau cerminkan aku siapa aku bagimu yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar