Berbaris Kisah
Pagi ini, ditemani secangkir kopi. Ah tidak. Segelas kopi yang ku racik dengan sedikit garam (berawal dari mata kuliah filsafat di siang hari yang panas dengan hawa paling nyaman buat mojok, dan berimajinasi hingga tertidur, untung saat itu ku pilih duduk di depan nomer dua, pas samping jalan biasa dosen bolak-balik, ngobrol ngalor-ngidul atau lurus dengan materi) yang katanya bisa membuat kandungan kafein pada kopi semakin strong. Selanjutnya ku dinginkan dengan menuangkannya pada botol plastik yang dipotong menjadi gelas. Tak apa jika asam lambungku naik, atau perutku akan perih hingga beberapa jam kemudian, atau dadaku bakal rasakan sakit yang tak tertahan.
Hari ini aku akan cerita tentang apa ya?
Boleh aku cerita tanpa beban di sini? Tanpa perlu memikirkan alur apa yang ku pilih. Biarpun itu dari mimpi, Ya kan?
Seorang perempuan berjalan dengan tergopoh. Tanpa rasa bersalah ia menerabas semua pejalan kaki, padahal mereka juga sama terburu-buru.
Salah satu pejalan kaki mengumpatinya, karena kertas yang dibawanya terlepas dari pegangan. "Maaf, maaf, saya buru-buru," teriaknya tanpa berhenti berlari malah dipercepat. Satu hal yang diucap gadis itu. "Syukurlah dia orang baik."
Saat memasuki ruang keheningan, hanya kediaman. Tak ada suara termasuk langkah kakinya seakan terendam oleh udara. Hanya keheningan.
Angin yang berhembus pun tak terasa, hanya detak jantung yang masih mengikuti ritme larinya dua menit yang lalu sebelum ia diharuskan memasuki ruang keheningan tersebut.
Sayangnya ruangan yang hening itu tidak mampu meredakan detak jantungnya. "Tarik napas-keluarkan rileks," perempuan itu mensugesti dirinya. Dalam sekejap suasana hening itu bisa berganti dengan keramaian, bising sana-sini pedagang asongan menjajakan dagangan dengan suara lantang yang memekakan telinga.
Mereka saling bersahutan satu sama lain menawarkan hal yang sama, sering ia jumpai. Sudah bosan akan semua ini. Kenapa mereka harus menjajakan sesuatu yang sama? Padahal ada hal lain yang bisa dijajakan.
Pemikiran yang jarang sekali dibagi, bukankah manusia sudah diberi akal sejak lahir? Entah yang terjual atau dijual harus dari pemikiran orang lain? Mengapa tidak dari diri mereka sendiri, padahal otak manusia bisa lebih luas dari semua ini. "Ah mengapa aku harus memikirkan semua ini? " runtuknya.
Dunia luas, otak manusia lebih lagi, khayalan mungkin termasuk? Bagaimana manusia bisa tahu seperti apa bentuk dinosaurus jika tidak melihat kerangka tubuhnya, tentunya semua itu dari imajinasi manusia, bisa saja kerangka yang ditemukan bukanlah nyata? Bisa saja hanya karangan kaum elite?
Pertanyaan itu muncul dengan cepat beralih, suasana jauh dari ketenangan, suara tembakan ada di sana-sini. Tangisan pun tak terelakan, teriakan anak kecil menggema di telinga. Kini aku berada dimata gadis tersebut menyaksikan segalanya bagai sesuatu yang nyata. Menjadi bagian terkecil dari bola matanya yang beriris coklat kopi susu. Orang akan menyukai mata itu jika tak memberontak. Gambaran ketegasan dengan alis yang membingkai mata teduh miliknya.
Satu peluru tepat di dadanya, dua lagi dari belakang satu lagi tepat di perut, dan rasa yang ditunjukkan semuanya panas, sesak kian memburu. Rambutnya tersibak angin saat tubuhnya limbung dengan debu bertebaran disekitar ia terjatuh. Saat itu kurasakan matanya berat, dan panas itu mulai terasa di bagian kepala, sebelumnya terdengar derap langkah kaki mendekati. Dua, tiga, empat peluru memburunya. Masuk dan menetap disana.
Saat terbangun hal lain kurasakan, membuka mata terasa lebih ringan. Di depanku, lebih tepatnya di mata perempuan berambut panjang yang dikepang. Biarpun dikepang rambut itu melebihi paha. Seseorang di belakang dengan tangan yang lincah merapikan rambut panjang itu dengan rapih keatas dan tertata begitu anggunnya. Mata itu masih memandang kosong ke cermin terlihat dari mata bayangan perempuan itu. Sesekali ia ingin melepaskan rambut itu, dan membiarkannya tergerai panjang.
Senyuman terukir di bibirnya yang masih merah merekah karena polesan warna bibir, meski tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi ia menyukainya. Meskipun terpaksa. Bukankah perempuan harus merelakan kehendaknya? Demi pria yang tiap hari menuntut kecantikannya. Meskipun tidak untuk selamanya. Seseorang mengetuk pintu dan meminta perempuan paruhbaya yang menemaninya keluar. Dalam kesempatan itu ia tidak akan melepaskan waktu terbaik miliknya. Diambilnya pisau cukur, dan menggesekan ke pergelangan tangan kirinya. Dengan menahan rasa sakit dibukanya kepangan yang rapih tersebut, ia menyukai rambut panjang miliknya tergerai dioleskanya darah dari pergelangan tangan yang mengalir ke bibirnya yang merah.
"Ini saatnya." matanya menutup dengan lembut dan napasnya pun perlahan hilang, tertidur untuk waktu yang entah sampai kapan?
Saat ku buka mata ku tersadar jika semua itu hanya mimpi. Satu pertanyaan muncul setelah mimpi ini ku tulis, apa manusia masih bisa berpikir dalam mimpi? Dan kenapa bisa begitu?
Komentar
Posting Komentar