Buta dan Tak Berasa.

 Matahari dengan malu-malu terbit dari ufuk timur, bagai anak kecil yang bersembunyi di balik punggung ibunya. Rona semu kelabu menghiasi lingkarnya.  

Burung bercicit ria mencari makanan untuk bayi-bayi mungilnya di sarang.  Embun pagi masih menguarkan aroma tubuh alam di pagi hari. 


Dari pintu, ku pandangi seorang pria sedang menunggu seseorang untuk kembali. Yang mungkin tak pernah kembali, atau sebenarnya ia telah kembali. Sungguh aku tak mengerti apa  dan siapa yang dimaksud.  Memandangi alam akan membuatnya tenang, sedikit tenang dari hari sebelumnya. 


Ia akan menghabiskan waktu seharian untuk memandangi koran yang tergeletak di sampingnya. Meskipun tak memberi kesan apapun padanya. 


"Ini salah ku, tak seharusnya aku percaya pada semua itu.  Maaf." gumamnya. Ku hampiri dia, meski ku tahu ia tak pernah menggubrisku. Tidak akan meskipun aku ada di sebelahnya. 


"Kau tak perlu minta maaf aku baik-baik saja." semenjak kejadian tragis itu ia murung. Pendiam, terkadang menangis atau terkikik sendiri tanpa kejelasan. Sebelumnya orang tua nya menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit jiwa saja. Ku pikir itu tidak perlu, dia hanya lupa padaku, dia tidak ingat apapun mengenai aku. 


"Kamu jangan merasa bersalah ya, aku sudah di sini," ku genggam tangannya, dan akan selalu begitu. Kubisikkan di telinganya. 

“Percayalah padaku karena aku sudah percaya padamu lebih dari  percaya pada diriku sendiri.”


Dia tersenyum. Manis. Angin lembut menyibak rambutnya. 


Komentar

Postingan Populer