Gambaran Neraka?


Embusan angin menyibak rambut panjang milikmu. Sebagian kau ikat dan kau bebaskan yang lain.  Berhias tiga tangkai bunga kaca piring yang kau petik acak dari pohon milik tetangga depan rumahmu. Aroma wangi menguar dari bunga putih itu.

Dengan baju putih berupa gaun panjang beberapa helainya transparan namun tetap anggun bila kau kenakan. Bagai mutiara. Kau adalah mutiara yang terendam dalam lumpur ribuan tahun. 
Tak ada yang tahu apa yang istimewa darimu. Tapi kau istimewa dengan sendirinya.

Angin masih berlanjut meniupkan seruling merdu milik alam. Taman yang kau tapaki tampak  sepi terlintas terlihat seperti bukit. Menjulang lebih tinggi dari pada dataran sekitar. Berjalan kurang lebih empat kilo dari desa sama halnya empat kilo dari rumah.

Di puncak  tertinggi bukit empat kursi panjang mengelilingi satu pohon beringin.  Hanya itu satu-satunya pohon di bukit atau kau bisa menyebutkan gundukan tanah seluas setengah lapangan sepak bola. Jika ingin menemui pohon lain dengan buah delima merah yang jarang sekali berbuah, kau harus berjalan dua puluh tujuh langkah dari beringin itu.

Pandangan di sekitar hanya menyajikan satu warna. Hijau. Selain itu mungkin yang dapat kau lihat hanyalah jalan menuju desa sekaligus rumah penduduk yang lenggang jarang ada aktifitas padat.  Dari rumah ke rumah yang lain kiri kana mungkin berjara lima sampai tujuh meter sebelumnya . Sangat jauh jika dihitung sebagai jarak antar tetangga kecuali tetangga depan rumah hanya terpisah jalan.

Di desa-desa sekitar sebelumnya sama namun kini sudah sesak penuh manusia. Pelita sudah tak terpakai di desa ini sejak belasan atau bahkan puluhan tahun lalu, terganti dengan lampu dan listrik. Suatu saat yang mungkin jadi candu semua orang.

Tapi untuk hari ini pencahayaan malam tak perlu lagi lampu sebagai penerangan, sudah cukup dengan bulan purnama itu pun jika sinar nya tidak terhalang awan. 

Langit senja yang semakin menua terpampang di hadapan. Mentari bulat oranye berhias saput saput merah tipis menambah ke elokan alam ini.  Kau akan menunggu waktu hingga menjelang malam atau sampai kau lupa bahwa sudah malam. Sendiri. Apa malam akan membawa ku pergi? Gerutuanmu yang hanya di dengar angin, bersama hawa dingin merasuk ketubuh. Kau tahu jika tubuhmu tidak kuat menahan suhu udara ini. Sesekali rasa sakit di kepalamu berdenyut hingga hanya denyutan yang terasa, terdengar.  Paling parah hingga cairan anyir tercium oleh hidungmu. Hingga cairan merah itu mengalir menyebrangi hingga kedagu. 

Dan benar saja sedetik selanjutnya serangan kejutan tiba. Sakit nya melebihi di pukul dengan bogeman. Lebih sakit dari pada bertarung dengan sesama perempuan yang jambak-jambakan. Sesakit tertimpa palu saat memaku. Kau bisa bandingkan karena semua itu sudah pernah kau rasakan.

Mata itu berair hanya di sudut. Detak jantung mu kini pun tak keruan, semua buram di matamu tanpa terkecuali.  Langkahmu mundur menuju bangku yang sejajar. Kau duduk di sana mengeja tiap kata. 
"Ini saatnya, kumohon."

Kupu-kupu hitam melintas.  Kau anggap ia malaikat maut yang kau tunggu datangnya, semakin di tunggu tak pernah datang.

"Sekian lama aku menanti senja hingga malam menjelang ia pun tak membawa ku pergi."

Semua menggelap. Napas terhenti. Kalung itu terlepas dari genggamanmu.


Dunia mulai hitam. Itukah Surga? Gambaran neraka? 




Teruntuk sesak yang senantiasa menyertai

Komentar

Postingan Populer