Kau Pikir Aku Tidak Kecewa?
Ada rasa kecewa yang mengekangku. Menghimpit dan menyesakkan. Bukan lagi, aku sendiri yang kecewa. Tapi banyak kekecewaan yang membelengguku tanpa ku tahu darimana datangnya. Arah mata angin pun tak pernah memberi jawaban, atau petunjuk dari barat dayakah, dari selatan atau dari timur laut.
Air-air itu mengalihkan pandanganku yang semula tak berfokus, kini hanya bisa menikmati tiap air hujan menabrak kaca bening itu. Jatuh satu persatu mengalir bagaikan bintang jatuh di langit malam. Sayang. Kali ini adalah siang. Tidak terlalu panas, mendung pun tidak. Cerah. Langit secerah itu telah menghinaku, atau sekedar ingin menghiburku, namun aku yang tak paham atau memang aku tak pantas dihibur? Kali ini? Terserah.
Apa yang sedang ku pikirkan sebelumnya? Tak tahu pasti apa yang ku pikirkan. Bukan lagi dengan otak, tapi hati terasa sakit. Sakit yang tak ku tahu apa penyebabnya. Apa karena aku membawa beban rasa kecewa semua orang? Tak sadarkah jika aku sendiri pun merasa kecewa. Lebih dalam daripada yang lain.
Hanya saja aku yang tidak punya rasa bersalah sedikit pun mengganti pandangan dan pemikiran ke arah yang lain. Nyatanya semua menyalahkanku. Adilkah itu. Apa tak bisa, jika ku berharap semua orang mengerti bahwa selain mereka, ada aku yang sakit terlebih dahulu, aku yang kecewa. Aku yang paham terlebih dahulu, bukan kalian, mereka, dia atau kamu. Kali ini pun sama, terserah suka-suka kalian, terserah apa kata mereka, yang ingin ku katakan adalah aku pun sama, aku tahu rasanya, aku lebih kecewa, kenapa beban ini seakan dilimpahkan padaku?
Kuhela napasku berkali-kali mencoba mngusir rasa sakit dan kecewa di hati. Ada banyak yang kecewa ( atau aku yang merasa seperti itu, padahal mereka tidak kecewa sama sekali). Bagi yang kecewa karena keputusan ku mengertilah aku lebih kecewa. Terima kasih atas kebaikannya mempertahankanku, meskipun lambat laun akan sulit. Dan pada akhirnya menyerah.
Terima kasih telah memahami kemarahan ku, meskipun jarang sekali aku kecewa namun sering kali aku marah tanpa tahu karena apa.
Komentar
Posting Komentar