Semoga Tidak Lagi Sendiri
Jika di hari raya kali ini doaku terkabul.
Mungkin aku berharap.
Pada saat nya nanti aku bertemu mata itu.
Memandang mata sayu dengan penuh kerinduan.
Betapa lamanya wajah itu tak kupandangi dalam kenyataan.
Sesekali mata itu ku pandangi dalam mimpi jika memang tiba saatnya. Atau sesekali mata itu hadir dalam pikiran ketika tersadar. Kadang membayang tanpa diundang dalam pelupuk mata.
Kadang dibarengi senyum tipis yang manis miliknya.
Menghantui.
Tapi ingin ku ucapkan 'maaf' untuk kesekian kalinya bahwa aku telah terjatuh dalam pesonanya.
Sekian lama.
Berkali-kali.
Dan hingga kini perasaan itu masih menghinggapi, meski sejujurnya aku tidak pernah pantas untuk itu.
Bukan kah kau sudah bahagia?
Khayal ku kau menjawab 'tentu'
Kau bahagia dengan bintangmu
Sedang aku di sini menguap menjadi awan lalu jatuh, sebab awan lain tak kuat menahan. Saat itu mungkin aku akan jadi setetes cinta yang tak berguna. Menyapa tanah atau dahan kering, lalu hilang karena panas, entah ada siklus selanjutnya atau tidak.
Aku iri pada air yang membelaimu saat hujan.
Aku iri pada dia yang membawakan handuk sepulang kau kerja, basah karena kehujanan.
Aku iri pada jaket yang selalu menemanimu saat lari pagi
Aku iri pada bibir yang bisa mencium tangan mu saat hari raya tiba. Ah tidak, tiap kali kau pamit bekerja.
Tapi aku sadar aku di sini hanya bisa berkata-kata tanpa pernah bersuara. Merangkai kata demi kata untuk sebuah kalimat. Kalimat menjadi paragraf. Paragraf tercipta hanya untuk diriku sendiri.
Kunikmati, ku serap sebentar, menguap pada rasa kecewa. Sadar bahwa aku tak kan pernah bisa mengikis embun untuk kuserahkan saat kau haus di malam hari.
Karena aku yang terkikis hari-hari. Minggu ke minggu. Hingga tahun ketahun. Kunanti mata itu bisa kupandangi. Sedetik saja.
12-5 -2021
Komentar
Posting Komentar