Tetap Jaga


Bintang berserakan di langit malam, malam ini mereka hanya di temani seusap cahaya tipis kuning di langit. Bulan sabit. Tak ada bulan purnama. 


Perjalanan panjang berhari-hari yang lalu kau tempuh hanya merenung. Tersadar dari tidur panjang membuat pikaranmu linglung. Semua tetap sama hanya sedikit yang berbeda. Beberapa senti saja. Detak jantungmu pun sama. Berdetak lebih nyaman, meskipun ada kejutan yang tak terduga. 


Merindukan jantungmu yang dulu? Ketika lelah, jantungmu akan berdetak lebih cepat dari biasanya. Sakit itu pasti menyergap jantungmu. Denyutan yang terasa menyiksa melemahkanmu dalam ranjang putih tanpa bersuara. Segalanya kosong. Mata yang selalu menutup dengan suara lain yang ribut di luar sana. 


Saat dikesibukanmu melamun. Dari arah belakang terdengar derap langkah yang berlari cepat. Kau tahu meski tanpa menoleh. 


“kamu harus jaga kesehatanmu, jaga pemberian orang. Jangan sesekali menyia-nyiakan pemberian orang. Masuk,”  ia mendorong kursi roda yang masih menopang tubuh ringkihmu. 


Didepan pintu, kau tengadahkan kepalamu menghadapnya. Ia menunduk, rambut dengan wangi sampo itu jatuh di depan alisnya. Dari kibasan itu ada air yang menyisip masuk ke mata. Kau kedipkan matamu. Mata itu tepat menghunus di depan matamu yang perih terkena air. 


"Kenapa harus dijaga? Bukanya sudah diberikan, lagi pula aku tak memintanya." 


Ia menghembuskan napas kasar, melanjutkan mendorong kursi rodamu. 


“Ini semua demi  kebaikanmu kebahagiaanmu. Dan satu lagi,  nggak ada yang namanya hidup  terasa sempurna dan indah ketika kehidupan itu hilang dari ragamu. Kenapa tidak merasakan hidup sempurna dan indah saat hidup? 

Jaga selalu pemberian orang, apalagi yang nggak bisa dikembalikan. ”


“Katanya satu lagi tapi masih ada, dasar pembohong,” cibirmu. 

“lalu bagaimana jika aku tak bisa menjaganya?" 


“Ya sebisa mungkin kau harus menjaga kepercayaan orang itu.”


“Kalau aku sudah menjaga semaksimal yang aku bisa dan ternyata gagal dan aku masih disalahkan? Dan akhirnya sama aja aku gak bisa, bukankah sudah dibilang ini beresiko kalau tidak cocok maka aku yang mati. Dan kemungkinan cocok kecil. Dan dari yang kamu katakan, untuk apa aku menerima. Bisa saja sedetik kemudian jantung ini menunjukkan ketidakcocokanya. Lalu apa yang terjadi? Kau menyulitkan dirimu sendiri dan aku,” cerocosmu tanpa berhenti sesekali terselip pertanyaan yang tak pernah menunggu untuk dijawab. 


“Kau terlalu pesimis, lakukan saja seperti arus sungai, kau bisa memilih menjadi ikan atau justru memilih menjadi batu,”  tandasnya, kini tubuhmu sudah merasakan empuknya kasur. 

“Ingat tubuh selalu merespon apa yang kau pikirkan.”


Komentar

Postingan Populer