Daun yang Gugur
Di bangku di depan tempatku berdiri kau terduduk dalam diam. Tempat biasa kau bertemu dengan dia. Ku naungi tubuhmu, supaya tak terlalu panas. Ku lindungi dirimu dengan daun-daunku yang akan meranggas besok.
Kau pandangi dua cincin dikalungmu itu. Dengan hati-hati kau usap dengan jari lentikmu. Ku ingat lagi jari itu. Jari yang menggoreskan separuh tanda cinta ditubuhku, tangan yang membantu tangan lain untuk melukaiku. Mengikis lembut tubuhku, memberi garis di tubuhku. Biar sakit, tapi tak ada yang sesakit daripada esok.
Terukirlah kedua nama itu, namamu dan nama pria yang kau nanti. Perjanjian empat tahun yang lalu (jika kau ingat) ia berjanji akan kembali. Dan hingga kini kau pun menanti, tak kunjung ia datang. Jika aku punya mulut mungkin aku tersenyum akan kesetiaanmu. Jika aku punya tangan bukan batang kayu, mungkin sudah kupeluk dirimu untuk mengirim rasa “tenang dia pasti datang” itu pun jika aku bisa.
Nyatanya aku hanya bisa menyimpan ukiranmu, hanya untuk jadi kenangan. Boleh kah aku minta satu permintaan sebelum aku dikirim keluar kota? Simpan ukiran itu sebagai kenangan mungkin sekembalinya dia, dia tidak bisa mengenali tempat ini, karena aku sudah tiada.
Untuk salam perpisahan kita, ku gugurkan bunga untukmu, ku rapatkan daunku untukmu.
Untuk:
Daun yang meranggas di siang yang terik, tepat dihadapanku.
Komentar
Posting Komentar