Hitam Sempurna

Menanti malaikat maut yang tengah mengulur waktu untuk mencabut nyawanya.  



Tangannya menggenggam pisau berlumuran darah.

Darah dari rasa kecewa yang selama ini menumpuk.

Nyeri ditangannya  tak tertahankan. 

Ditambah pusing dikepalanya

Menanti malaikat maut yang tengah mengulur waktu untuk mencabut nyawanya.  

Mempermainkan hidup dan matinya. 

Terpana akan keindahan  hitam sempurna menyelimuti. 

Sekejap, sebelum suara berisik itu mengganggu ketenangannya. 

Ia terbangun dari ketenangan yang dinantinya.


Matanya masih berat, tapi telinganya mendengar. 


Derap kaki, benar- benar membangunkannya. "Kurang dalam jika ingin mati. Buang uang. Dasar tidak berguna.Kalau gak bisa bantu jangan tambah masalah," katanya. Ia mengenal suara itu. Tapi siapa, pikirnya. 


"Rujuk saja ia kerumah sakit jiwa. Supaya kamu gak perlu mengurusnya," suara perempuan  menyarankan,  ia pernah mendengar suara itu, tapi siapa? 


"Ya itu lebih baik, bikin malu saja," ujar orang itu, seperti suara pria, ia pernah mendengarnya tapi siapa? 


Buang uang.

Rumah sakit jiwa.

Sakit jiwa.

Tambah masalah. 

Tak berguna. 

Bikin malu. 


Kata-kata itu terngiang hingga kini. 

Ia berharap termasuk dalam kategori club 27, seperti usianya kini. 





Komentar

Postingan Populer