Namaku R
Namaku R.
Bulan masih bergelayut di langit malam, bersama bintang dengan cahaya melompat kesana kemari. Indah. Entah udara seperti apa malam ini. Tidak dingin, tapi hangat yang memberi ketenangan. Lagu diseberang pondokku masih terdengar. Merdu, meski hanya sama-samar. Yahh kenapa ada rasa kecewa yang tiba-tiba muncul di kala seperti ini. Ahh kenapa hatiku menjadi gelisah. Sesuatu yang aneh rasanya merasuki tubuhku, sesaat setelah aku mendapatkan ketenangan.
Kenapa? Ucapku dalam hati.
Jalan depan pondok masih lengang seperti biasa. Mungkin karena gelap? Sudah lama perumahan disini tidak memasang lampu jalan. Hanya lampu dari bangunan yang tidak terlalu terang. Angin berhembus melewati sela-sela jendela yang tadi setengah tertutup. Sedang aku mengamati jalan itu melalui jendela lainnya. Kutatap lagi diseberang sana. Lagu sudah berhenti sepertinya cuma istirahat dan akan dilanjutkan ke lagu selanjutnya.
Rasa itu datang lagi, tapi kali ini berbeda bukan lagi kecewa atau gelisah. Tapi apa? sulit untuk kujelaskan. Seperti ada yang mengawasiku? Oh iya mungkin perasaan diawasi yang membuat tidak tenang. Tapi siapa yang mengawasiku. Di sini tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku. Bagaimana mungkin ada orang lain, jika aku sendiri tak punya keluarga. Dari ujung mata ku lihat seorang pria, berdiri bersandar di tiang depan pondok. Mengawasiku. Benarkah? Mungkin cuma perasaan ku. Lagi-lagi cuma perasaan ku.
Kutatap lagi dia, kali ini aku berani menatap penuh. Dia masih memandangku. Benar-benar kepadaku. Dia membuang rokoknya, dan menginjaknya lalu berjalan masuk ke tempat asal lagu tersebut. Ku tutup jendela takut kalau-kalau dia orang jahat.
Jangan berburuk sangka, mungkin cuma kebetulan. Hiburku pada diri sendiri. Kututup gorden hitam jendela yang menjadi penghalang duniaku dengan dunia luar. Mulai kutulis semua perasaanku hari ini pada kertas kelabu.
Entah kenapa aku suka berbincang denganmu.
Namamu kelabu.
Dan siapa aku? Ya aku siapa, tak pernah ada yang memanggilku dengan nama. Aku tak punya nama.
Aku rindu. Tidak tahu rindu pada siapa?
Kau lihat tulisan di dinding itu kelabu? Aku R! Kenapa tak kugunakan saja nama itu. Aku R. Namaku R. Cukup singkat. Tapi menarik.
Kau dengar itu ada yang mengetuk pintu. Aku keluar dulu Kelabu. Sampai jumpa!
Saat di depan pintu sedikit ada rasa ragu. Jam hampir menuju pagi. Pukul 5. Tak ada siapa-siapa. Ada bingkisan ada catatan
Untuk Rindu. Untuk penghuni Rumah ini. Untuk R. Rindu.
Itu namaku? Benarkah aku punya nama? Namaku Rindu? Ku lihat disisi jalan pria semalam. Dia tersenyum padaku dan mengangguk seakan mengiyakan apa yang aku pikirkan.
"Terima kasih," kubalas senyum samar dia pun melambaikan tangan dan masuk ke rumah seberang.
Ada yang jatuh selembar kertas bertuliskan, Anterograde Amnesia (Ketidak mampuan otak untuk meyimpan informasi baru) dan sebuah kertas warna kelabu. Aku tak mengerti.
Dan sebuah buku bacaan. Ada surat lagi.
Kau adalah Rindu
Namamu Rindu, kau mungkin melupakan aku dan kenangan kita, tak masalah aku tak akan lelah mengirimi catatan ini untukmu. Baca buku ini dan tulis semua perasaanmu di kertas kelabu ini. Setelah kau menerima surat ini, letakan kertas lain di bawah pintu.
Semoga bukunya menyenangkan.
Aku yang merindukanmu.
Ah sekotak nasi ternyata. Mi instan juga.
Aku R. Rindu.
Kamis,2 Juni (7:08 PM)
Komentar
Posting Komentar